Perkara akhlak adalah perkara yang agung, dan kedudukannya amatlah tinggi dalam ad-din, maka ad-din adalah akhlak, dan orang yang paling sempurna diantara orang-orang beriman adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik akhlaknya adalah orang yang paling dekat tempat duduknya Dengan Nabi ` pada hari kiamat.
Sungguh telah ada nash-nash syara’ dalam hadits yang berhubungan dengan akhlak, yang mana nash-nash tersebut me-nganjurkan, mendorong dan ajakan untuk menyukai akhlak mulia serta memperingat-kan, berpaling dan menghindarkan diri dari akhlak yang jelek.
Bahkan Rasulullah ` menerangkan bahwasanya tujuan dari pengutusannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Beliau bersabda ` :
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang shalih". (HR. Ahmad (II/381), Al Bukhari dalam Kitab al-Adab al-Mufrad (273) Bahkan kaum manusia dalam keragaman adat mereka mencintai keluhuran akhlak, menjalin hubungan erat dengan orang-orang yang luhur akhlak perilaku mereka, mereka juga membenci akhlak yang buruk dan menjauhkan diri dari pelaku akhlak yang buruk tersebut.
Bersamaan dengan keagungan derajat akhlak yang mulia, namun sebagian besar kaum muslimin tidak memperdulikan sisi ini. Mereka sama sekali tidak memberi perhatian bahkan mereka menyepelekannya. Terlihat betapa akhlak yang buruk pada sebagian besar kaum muslimin, dan akhlak yang buruk ini nampak tersebar dishaf kaum muslimin, yang pada akhirnya akan menjadi fitnah terhadap kaum selain mereka, terlebih kepada seseorang yang hendak memeluk dan masuk kedalam agama mereka. Hal itu tatkala dia menyaksikan perbedaan yang jauh dan yang mencolok antara keadaan kaum muslimin dengan ajakan agama yang lurus ini kepada mereka.
|